
Mt. Pelajaran : Bhs. Indonesia / Catur Wulan III. Tahun 1994
Kelas : 5C
Judul : "Nama Saya Tommy Aditama Putra"
Bukan nama yang istimewa. Bukan juga nama yang besar. Tidak punya arti tertentu. Hanya begitu saja. Saya bukan anak yang menarik. Lihat saya. Saya bukan Andrico Putra dari kelas 5A yang jago main basket itu. Bukan Budi Harjanto yang jago melawak. Atau Kamal Djafar yang jago berantem. Bukan juga Berto Filentino dari kelas 5B yang anak orang kaya itu. Atau si Noviansyah yang disukai perempuan. Apalagi Rian Pabittei yang nilai matematikanya dapat 9. Lihat saya baik-baik.
Nama saya di Akte Kelahiran hanya “Tommy” saja. Hingga suatu hari kakak perempuan saya mendengar satu berita duka cita di radio, seseorang telah meninggal dunia dengan nama tengah “Aditama” dan nama keluarga “Putra”. Lalu diusulkan ke orang tua saya; maka, terjadilah begitu saja.
Saya adalah Tommy Soeharto. Si bukan pemberani yang mengumpat di balik baju si Pembesar. Saya bukan manusia baik-baik. Lihat saya. Saya ada disini. Saya besar.
Saya adalah Guruh Soekarno Putra. Si lembut yang sering berteriak di balik bakatnya tanpa bisa bergerak bebas.
Lihat. Lihat saya. Lihat saya baik-baik. Saya besar. Lihat saya.
Saya adalah seorang pemimpi. Lihat saya baik-baik. Nantinya pasti kamu akan melihat sesosok besar yang mampu mengerahkan kekuatan di luar batas kemampuan hidupnya untuk dapat terus hidup dan menuliskan sejarah demi sejarah generasinya, hingga manusia-manusia setelahnya akan terus dapat mengingat bahwa pada suatu waktu pernah ada seseorang yang bernama Tommy Aditama Putra. Bukan, memang bukan nama yang istimewa. Bukan juga nama yang besar. Tidak punya arti tertentu. Hanya begitu saja.
Saya akan menjadi seorang seniman. Lihat saya. Jangan lihat Bona dari kelas 5A seperti yang kamu dan ibu-bapak guru biasanya lihat. Jangan juga Zarrabida Sutowo. Apalagi lihat Eric Nurmansyah. Mereka anak orang kaya. Punya pensil warna yang bagus-bagus. Gambarnya juga bagus-bagus. Tapi lihat saya. Jangan lihat mereka. Saya besar.
Saya akan menjadi seorang seniman besar. Punya uang untuk beli pensil sendiri. Tidak minta uang lagi sama bapak dan mamih. Beli kopi sendiri. Tidak lagi dibikinin susu sama oom Boy setiap pagi sebelum pak Tatang dari mobil jemputan sekolah datang.
Saya besar. Punya orang banyak di sekeliling saya. Punya sahabat yang siap menemani saya berjalan jauh untuk melihat ke depan. Punya orang yang takut karena saya didengar. Dan orang segan karena saya kharismatik. Punya banyak sekali musuh yang siap menusuk tulang rusuk saya dari berbagai sisi hingga saya sekarat.
Dengan itulah saya besar. Lihat saya. Itu semua karena saya seorang Pemimpi. Lihat saya baik-baik. Itu semua karena nama saya Tommy Aditama Putra. Bukan nama yang istimewa. Dan saya bangga dengan itu. Karena saya ‘menamamkan’, dan bukan ‘meneruskan’.
Nama saya akan menjadi besar. Akan menjadi istimewa. ‘Putra’ akan menjadi nama besar di belakang nama Tommy-Tommy baru berikutnya. Kalau bukan laki-laki, akan berubah menjadi “Putri”.
Lihat saya. Lihat saya. Lihat saya baik-baik. Saya adalah seniman besar. Dan suatu saat nanti kamu pasti akan setuju dengan itu. Begitu juga dengan orang-orang setelah saya dan kamu. Nama saya Tommy Aditama Putra.